Drama tiga hati jadi satu yang mendayu-dayu

Editor by Manoby
1

Baca Juga

 

Aku memandang sosoknya lagi setelah selama sebulan ia telah mundur dari pekerjaanya sebagai guru privatku. Dan selama itu pula aku sudah tak pernah bertemu sosoknya lagi. Padahal, sosok inilah yang paling ingin kuhapus dari memoriku tapi, mengapa saat usahaku hamper berhasil, dia kembali lagi? Namun, aku segera sadar jika tujuannya dating kemari bukanlah untuk kembali ataupun untuk meminta maaf padaku karena kejadian di taman sebulan lalu. Dia membawa sepucuk surat berwarna coklat dengan hiasan klasik disekelilingnya.

“Apa-” kata-kataku menggantung. Tak sanggup rasanya aku meneruskan kata-kataku setelah ia menolakku sebulan lalu. Jangankan hanya mengucapkan beberapa kata padanya, memandangnya saja sudah membuatku seperti ingin bunuh diri.

“Surat undangan …” Dia tersenyum dengan senyum yang tetap seperti dulu. Manis dan penuh pesona. Ah, aku segera mengusir lamunan yang dulu setiap hari kulakukan tiapkali aku bersamanya. Sudah cukup! Aku tak mau lagi terjebak dalam imajinasuku untuk kesekian kalinya. Aku tahu ada sedikit getaran aneh pada nada suaranya,”Surat undangan pernikahanku,” lanjutnya.

Aku terkejut. Darahku berdesir dengan cepat dan jantungku tak henti-hentinya menghalau beban yang saling berhimpit disetiap urat nadiku. Kinerja tubuhku seakan sedang berhenti bekerja dalam beberapa detik terakhir setelah kata-katanya menyihirku. Buntu. Aku tak bias mencerna kata-katanya dengan baik.

Aku hanya diam terpaku memandang sosok yang selalu memenuhi kalbuku dengan kerinduan yang tak berkeputusan ini. Berhentilah. Aku tak tau apa yang bisa kuperbuat saat ini. Sakit dan nyeri lagi-lagi mengusik kenyamanan hatiku. Tak kusangkan ini semua akan terjadi padaku. Tak pernsh terlintas sejenakpun dalam benakku bahwa dia akan mengantarkan surat seperti ini kerumahku. Untukku. Aku meremas erat genggaman pintu rumahku yang sedari tadi tak kulepaskan.

Aku tersenyum getir. Mencoba menyembunyikan kesedihan dan kekecewaanku padanya.”Selamat,” ucapku dengan sedih walaupun wajahku kubuat seceria dan sebahagia mungkin, ”Selamat atas pernikahan bapak, semoga bahagia,” lanjutku sambil menerima surat dari tangannya. Dia tersenyum lagi.

“Terima kasih.” Dia berbalik setelah mengatakannya, melangkah lagi seperti dulu. Hanya punggung tegap itu saja yang selalu kupandang tiap kali dia berhasil menghancurkan hatiku. Dia. Yang selalu memunggungiku saat aku benar-benar telah merasa sangat bodoh karena telah mengharapkannya kembali. Akan bersamaku. Yang ternyata hanya khayalanku saja. Kami tak akan pernah bisa bersama seperti yang pernah kuucapkan dulu padanya. Aku mahasiswa dan dia guru privat. Ini tidak adil.

“Selamat tinggal,” kataku lirih, air mata perlahan kembali membasahi pipiku,”Pak Ren.”

Tak pernah lagi aku melihat sosoknya setelah itu, aku juga tak dating pada pesta pernikahannya. Sudah enam bulan, sama sekali tak terasa. Kenapa aku tiba-tiba teringat lagi padanya? padahal sekarang aku telah bersama Rio, pacarku yang sangat baik dan selalu memperhatikanku. Sudah enam bulan pula aku bersamanya, tepat setelah Pak Ren menghancurkan hatiku. Namun, aku benar-benar tak kuasa melupakan wajah, bahkan suara Pak Ren dari telingaku.

Rio. Kebetulan sekali namanya berinisial sama dengan Pak Ren, jumlah huruf penyusunnya pun sama. Kebetulan yang indah sekali. Rio dan Ren. Aku tersenyum. Membayangkan sifat mereka yang juga hamper mirip. Tegas, kharismatik,lugu, dan tak pernah membosankan, aku menemukan semua kesamaan itu baru-baru ini. Kesamaan yang sebelumnya tak pernah kusadari. Rio seperti malaikat bagiku, dia dating dalam kehidupanku dengan tiba-tiba dan tanpa kuduga pula dia membuatku melupakan kesedihanku pada Pak Ren sedikit demi sedikit dengan keberadaanya disisiku.

“Za …” Aku tersentak. Sebuah suara tiba-tiba masuk kelubang telinga dan mengusik lamunanku. Aku memandang Rio yang memandangku dengan senyum yang manis,”Kau ketahuan sedang memandangiku lagi,” ucap Rio dengan senyum nakalnya. Aku tercekat. Jantungku seakan berhenti berdetak saat itu juga. Perlahan, sosok Pak Ren bergerak tepat sama dengan Rio saat ini, bayangannya yang dulu saat ia masih mengajarku. Aku menganga dan seakan memoriku kembali merajut masa lalu yang telah kutinggalkan dulu. Memori tentang Pak Ren.

“Rio?” Aku tergagap menyebut namanya. De javu? Lagi? Sudah beberapa kali aku mengalami ini dan selalu terjadi saat aku bersama Rio.

“Ya?” Dia menelengkan kepala. Aku semakin sulit bernafas. Sama. Caranya menelengkan kepala persis seperti Pak Ren. Napasku memburu saat aku teringat lagi pada masa laluku. Benang-benang impulsku mencoba bermain dengan ingatan lampauku.

“Ren.” Tiba-tiba nama Pak Ren dengan cepat mendesis keluar dari mulutku. Rio terlihat kaget mendengar aku menyebut nama Pak Ren. Air mataku perlahan mengalir turuntanpa kusadari. Kenapa? Kenapa sosoknya bisa melekat seerat itu pada Rio? Aku membekap mulutku agar tak kukeluarkan suara isakan tangis.

“Ada apa sih, Za?”

“Jawab!” Aku membalasnya cepat. Tenggorokanku tercekat hingga sulit sekali rasanya menelan ludahku sendiri. Rio mengerutkan kening dengan wajah cemas.

“Jawab?” Dia membeo kata-kataku. Meminta kepastian.

“Apa-“ Suaraku terbata-bata. Aku tidak tau dan tidak sadar bahwa pengarih sosok Pak Ren sangat besar pada diriku hingga aku tak bisa mengontrol diriku sendiri begitu menyangkut tentang dirinya, "hubunganmu dengan Pak Ren?”

Dia diam.

Aku menunggunya. Tapi, dia masih tetap diam. Sama sekali tak bergeming. Aku sudah tak sabar, buru-buru kuseka air mataku dengan punggung tangan. Aku meneguk ludah sambil tetap memandang Rio yang menatapku nanar.

“Aku,” Akhirnya dia membuka mulut. Dia meneguk ludah juga,”Aku adiknya.”

Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Aku berlutut sambil memegang nisan yang tertancap diam. Tanah merah yang masih beru itu terlihat begitu menyakitkan mata. Sakit. Lagi-lagi dadaku terasa sangat remuk saat kubaca nama yang tergores pada nisan itu. Rio memelukku paksa walaupun aku berusaha meronta darinya. Mencoba mengenyahkan dia dari sisiku saat ini.

Tapi akhirnya aku tak mampu, dia memelukku erat. Tenagapun tak cukup besar untuk melawannya apalagi dengan kondisi yang seperti ini. Begitu rapuh. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Sedih. Lagi. Menangis. Entah untuk keberapa kalinya aku meneteskan aire mata hanya karena satu nama. Kenapa dia membuat semuanya menjadi serba sulit? Kenapa dia menyembunyikan kenyataan pahit yang merobek kalbu seperti ini? Kenapa Pak Ren? Katakan padaku!

“Maaf.” Rio mendesah. Aku masih menangis didadanya. Tak tau apa yang harus aku katakan untuk menjawab pernyataan maafnya. Pikiranku buntu untuk kesekian kali hingga rasanya aku sudah lelah untuk berpikir. Aku ingin berhenti merasakan sakit yang menghujam lewat di ulu hatiku. Lelah, benar aku lelah dengan semua kenyataan beruntun ini. Aku hanya ingin menangis, setidaknya untuk saat ini. Aku diam. Masih sesenggukan dalam tangisku. Kenangan dulu bersama Pak Ren perlahan mengisi penuh kedua bola mata, hati, dan pikiranku.

Bagaimana dia tertawa, mencoba menghiburku, berusaha sekuat tenaga mengajariku hingga aku benar-benar bisa menghadapi soal-soal di universitas. Aku membayangkan bagaimana wajahnya yang selalu menyelimuti malamku, menemani tidurku, aku menangis semakin keras. Pak Ren, sudah berapa kali kau membuatku kalang kabut seperti ini? menangis itu sakit! Apa kau tahu itu?

“Kenapa?” Aku menangis lagi sambil memukul dadanya. Meluapkan segala kesedihan di hatiku sebelum nantinya benar-benar membuatku kehilangan nyawa. Rio mempererat pelukannya padaku.

“Karena ... karena dia yang memintanya,” ucap Rio dengan sedikit tergagap, ”D-dia tahu bahwa dia tak akan pernah bisa membahagiakanmu dengan keadaanya yang-” Rio menghela napas berat,”sakit jantung.” Suara Rio mulai terdengar bergetar. Kurasa, ia sedang berusaha menahan tangis.”Dan dia juga tahu bahwa ia tak akan lama lagi hidup didunia ini. Karena itu dia tidak menerima pernyataan cintamu walaupun sebenarnya saat itu hatinya hancur berkeping-keping.”

Aku masih menangis. Meresapi tiap kata yang keluar dari mulut Rio walaupun aku juga tau tak semua kata masuk ketelinga dan kuproses dalam otakku. Sudah kubilang, otakku seperti berhenti bekerja saat ini.

“Dia memintaku menjagamu tepat saat dia telah mengantarkan surat undangan palsu itu. Dia tahu kau takkan pernah datang ke pernikahan bohongan itu.” Rio melepaskan pelukannya dariku. Mencoba melihat aku yang rapuh dan hancur. ”Yang jelas, dia sangat mencintaimu,” lanjutnya. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Kini aku tahu. Aku tahu Pak Ren tak pernah berusaha membuatku hancur. Tidak pernah.

Tapi aku tak bisa memaafkannya! Dia pergi … meninggalkanku di dunia ini tanpa permisi. Bahkan tak ada yang memberitahuku tentang ini. Lalu pada siapa rasa sakit ini aku lampiaskan? Kepada siapa aku meminta pertolongan? Hatiku seakan sudah tak berbentuk lagi mengingat begitu banyaknya rasa yang tertanam semu. Penuh dengan derita. Menyakitkan sekali. Apa kau tahu rasanya, Pak Ren?

“Aku … benci …,” kataku terbata-bata disela tangisanku.

Rio menggeleng cepat sambil terus menatapku, air mata ternyata berhasil menyebrang ke pipinya. “Jangan ... kumohon..” Dia menggigit bibirnya seperti caraku menahan tangis seperti biasanya, ”Jangan…”

“Lalu kepada siapa rasa sakit ini aku lampiaskan?” Aku menarik kerah bajunya, ”Kepada siapa? Katakan padaku! Katakan padaku saat ini juga!” Aku melepaskan genggamanku dari kerah bajunya. Menangis dan terus menangis, tak tau apa yang harus kuperbuat saat ini. Aku lemah, tak berdaya, dan rapuh ... tak pernah kurasakan hidup sepahit ini sebelumnya. Sunguh baru pertama kali ini kurasakan. Bagaimana aku tidak menangis apabila orang yang kucintai ternyata juga mencintaiku tapi tak pernah mengatakannya padaku? Lalu disaat aku tahu, dia telah pergi? Bahkan tak bisa lagi kulihat untuk selama-lamanya? Aku harus bagaimana?

Pak Ren. Aku malah akan lebih bahagia apabila seandainya kau jujur padaku saat itu. Tentang perasaanmu dan juga tentang semuanya. Kau suka melihatku begini ? Kau sengaja? Kau bahkan sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana jadinya aku nanti tanpa dirimu.. apa kau kira dengan hanya menyuruh adikmu ini menemaniku maka semuanya akan selesai ? Happy ending ? Bahagia selamanya? Kau salah! Ini kenyataan dan dunia ini bukanlah negeri dongeng yang menceritakan kisah khayalanmu, di dunia ini hanya Tuhan yang berhak mengatur semuanya, sudahkah kau tanya pada-Nya? Benarkah semua yang kau lakukan ini? Jawab aku !

Air mataku terus mengalir deras tanpa mau berhenti sedetikpun. Rupanya tangisku selama ini masih belum cukup banyak untuk mengeringkan air mataku kali ini. Seakan ada sejuta ember air mata yang berjibun dan memenuhi mataku. Tinggal menumpahkanya satu persatu maka semuanya akan selesai. Selesai tanpa sadar bahwa semuanya telah dimulai. Tuhan, inikah jalan takdir-Mu?

“Za…” Suara lembut Rio menancap tepat di gendang telingaku. Aku tak mendongak untuk sekedar melihatnya. Aku tetap diam dalam tangisku. Menumpahkan segala derita di hati yang sudah tak sanggupku bendung lagi. Sama sekali tak sanggup. ”Cukup bila … kau lampiaskan semuanya padaku,” ucap Rio selanjutnya. Aku tertegun mendengarnya.

“Melampiaskan padamu? Apa menurutmu itu akan berguna? Nggak, Rio.” Aku membantah keras ucapanya walaupun dengan suara yang tersendat-sendat. Aku mendongak juga menatap matanya yang layu seperti bunga musim gugur. Dia menatapku balik dengan pandangan yang tak dapat kuterka artinya.

“Mungkin,” jawabnya, ”Sakit hatimu begitu besar. Bahkan aku tahu pasti sangat sakit! Biarkan aku menjadi pelarianmu. Berapa kali pun kau butuhkan, aku akan datang, aku akan menghiburmu. Aku takkan pernah membuatmu jatuh, takkan pernah membuatmu terpuruk untuk kedua kali. Cukup apabila kau pukul aku setiap hari untuk menguras habis semua amarahmu pada kakakku. Aku yakin aku akan baik-baik saja asalkan kau tak membencinya. Kalau masih kurang-”

“Kau pikir aku akan tega melakukan itu?” Aku menatap matanya dengan amarah yang meluap-luap lalu menggelengkan kepalaku dengan tak habis pikir, ”Kau mengenalku hanya sebatas itu? Hanya sebatas orang yang melakukan pelampiasan dan segala macam yang kau sebutkan? Kau jahat!” Aku berdiri dengan sempoyongan, tak kusadari bahwa tubuhku selemah ini. Aku memegang kepalaku yang terasa amat pening, setelah itu aku tidak tau kenapa semuanya menjadi serba gelap. Aku tak mampu melihat apapun selain hanya mendengar sebuah teriakan:

“Seza!”

Kepalaku terasa seperti dihimpit ribuan tong minyak tanah. Berat dan sakit sekali! Ruangan gelap dihadapanku seperti berputar-putar tiada habisnya. Aku ingin membuka mata tapi aku tak bisa! sangat berat, aku tak kuasa dan aku sangat takut berada di sini ... di ruang gelap ini … apa yang terjadi denganku?

Aku berusaha mengingat kejadian demi kejadian seperti sebuah ruangan bioskop yang sangat besar dan aku kembali pada kegelisahanku, pada kekecewaanku, pada …

Tes…

Aku tersentak kaget saat kurasakan setetes air menetes tepat di hidungku. Setetes air yang tak kutau dari mana asalnya.

Tes…

Lagi-lagi, menetes perlahan satu demi satu … hujankah atau hanya perasaanku saja? Nyatakah?

“Za, aku memang tak tau derita sebesar apa yang sedang menyelimutimu.” Tiba-tiba sebuah suara tertangkap indera pendengaranku, ”Aku juga tak tau luka selebar apa yang ada di hatimu, tapi aku ingin menghapusnya, aku ingin menutupnya seerat mungkin …sampai tak bisa dibuka lagi…” Aku tertegun dan mulai menyadari bahwa itu suara Rio. “Aku … aku … bukannya aku jahat dengan menuduhmu macam-macam, tapi itu semua karena aku tahu bahwa kau takkan pernah bisa melakukannya … aku hanya ingin bersamamu …menjagamu dari segala kekecewaan …

“Awalnya, kupikir kakak terlalu jahat karena telah menyuruhku menemanimu. Aku sudah punya pacar waktu itu tapi kuputuskan karena kakak. Aku tahu umur kakak takkan lama lagi. Untuk itu aku ingin berbuat sesuatu untuknya, aku mulai hadir di kehidupanmu walaupun sebenarnya aku tak suka.”

Deg! Jantungku seperti baru saja dihantam oleh sebuah batu yang besar. Terpaksa? Jadi semua ini apa? Aku menaruh kepalaku di antara kedua lutut dengan rasa sakit yang tak terkira. Adik dan kakak … sama saja …

“Itu awalnya …,” lanjutnya lagi, ”Tapi, akhirnya aku jadi benar-benar menyayangimu. Bahkan, aku selalu bahagia jika aku berada di dekatmu.” Aku mendongak, walaupun yang kulihat tetap sebuah ruang kosong, ”Kakak benar, dia mencoba melihatku memandang lebih jauh lagi tentang cinta; cinta yang sesungguhnya dan bukan cinta yang hanya sekadar main-main. Aku sudah cukup dewasa untuk itu, untuk mengenalmu dan untuk memahamimu. Aku tahu kau tidak mencintaiku karena di hatimu selalu hanya ada satu sosok, yaitu Kak Ren … Aku bisa memahami itu lebih dari siapa pun, asalkan aku selalu ada bersamamu bagiku itu sudah cukup buatku.”

“Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku.” Aku membuka mata secara tiba-tiba, tak tau aku mendapatkan kekuatan darimana untuk bisa mengembalikan kesadaranku. Rio memandangku dengan raut kaget.

“Za? Kau sudah …”

“Ya, aku sudah sadar dan aku juga sudah mendengar semuanya …” Aku memotong ucapannya cepat. Rio tampak salah tingkah walaupun matanya masih terlihat sembab karena baru saja menangis. “Jika semua yang kau katakan itu benar, maka jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah menghilang …” Rio menatapku dengan pasti.

“A-Aku takkan pernah melakukannya, tapi jika kau masih menyukai Kak Ren, aku-”

“Jika aku terus memikirkannya, dia takkan pernah bisa tenang, untuk apa aku memikirkan orang yang bahkan tak pernah bisa kulihat lagi, tapi jujur saja rasa padanya masih ada … hanya beri aku waktu.” Aku mencoba untuk duduk. Rio tak menatapku, dia memandang lantai dengan wajah masam. Kami berada dalam keheningan selama beberapa saat lamanya, aku sendiri tak tau seberapa lama keheningan itu membungkam kami.

“Tidak.” Tiba-tiba dia bersuara. Aku menoleh padanya. ”Aku tak bisa menunggu selama itu.” Dia menatapku tajam. Aku tercekat sesaat, ”Aku butuh cintamu saat ini, bahkan seharusnya sejak enam bulan yang lalu. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi, terserah padamu pikirkan baik-baik dan berikan jawabannya padaku di taman sore ini.”

Aku menunduk. Mencoba memahami perasaanku sendiri. Apakah aku mencintainya ataukah hanya menjadikannya pelampiasanku seperti niatku semula? Tapi, sebentar kemudian sebuah pemikiran yang tak tau berasal darimana munculnya. Kulihat dari sudut mataku, Rio berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Aku menyukaimu.” Rio berhenti tepat saat dia akan membuka pintu. Dia terlihat meremas ganggang pintu.

“Jangan berbohong!”

“Untuk apa aku berbohong? Agar kau tak pergi? Tak ada gunanya bagiku membohongimu kecuali jika kau adalah pelampiasanku. Kau bilang kau suka berada di dekatku tapi kau bahkan tak pernah mengerti bagaimana perasaanku padamu.”

“Tapi, tadi kau bilang aku harus memberimu waktu untuk-” Dia terdiam saat dia berbalik dan memandangku yang berurai air mata. Dia memejamkan mata sesaat dan kemudian berjalan kearahku. Aku memandangnya dengan kening berkerut. Dia berhenti tepat didepanku lalu, tanpa kuduga dia memelukku. Dia memelukku sangat erat seperti tak mau untuk melepaskanku. Aku bahkan tak sempat berpikir apa-apa karena semua ini berlalu bergitu cepat. “Aku janji … Aku akan selalu ada untukmu, sekarang, dan untuk selamanya …” Aku tertegun tapi, sejurus kemudian aku merasakan bibirku tersenyum. Aku membalas pelukannya.
Tags:

Posting Komentar

1Komentar

Posting Komentar